Epilepsi Dalam Kehamilan
Ayan, atau dalam bahasa medik dikenal dengan nama epilepsi, telah dikenal insan sekitar dua ribu tahun sebelum Masehi
Air ludah atau buih yang keluar dari ekspresi penyandang epilepsi dianggap sebagai sumber utama penularan penyakit ayan. Anggapan yang kurang sempurna ini besar pengaruhnya terhadap perlakuan masyarakat terhadap penderita epilepsi, dan juga bagi sikap penderita epilepsi terhadap lingkungan kehidupannya. Dengan kekurangtepatan pemahaman masyarakat terhadap epilepsi menciptakan masyarakat mengambil sikap ragu-ragu atau takut memperlihatkan sumbangan apabila melihat penyandang epilepsi menerima serangan. Karena takut terpercik air liurnya. Akibatnya penyandang epilepsi menjadi dijauhi, diisolasi, didiskriminasi dan seringkali dipandang rendah oleh masyarakat lingkungannya, atau yang lebih ekstrem lagi dianggap ''tidak utuh'' menjadi manusia. Perlakuan yang demikian semakin menambah beban psikologis bagi penyandang epilepsi maupun bagi keluarganya. Daripada ''menanggung malu,'' maka atas inisiatif aktif dari penderita atau keluarganya, lebih baik menciptakan jarak fisik dengan masyarakat kebanyakan, mengurung atau menarik diri dari pergaulan
Selain pandangan yang keliru itu, muncul pula anggapan epilepsi merupakan penyakit keturunan. Anggapan ini tentunya juga membawa beban tersendiri dari pihak yang menurunkannya. Rasa berdosa, rendah diri dan aib senantiasa menghantuinya. Pandangan yang menyampaikan penyakit ayan merupakan penyakit keturunan memang tidak semuanya keliru, lantaran terdapat dugaan terdapat 4-8% penyandang ayan diakibatkan oleh faktor keturunan.
Apa penyebab dan tanda-tanda yang ditimbulkan
Di ketika serangan, penyandang epilepsi tidak sanggup bicara secara tiba-tiba. Kesadaran menghilang dan tidak bisa bereaksi terhadap rangsangan. Tidak ada respon terhadap rangsangan baik rangsang pendengaran, penglihatan, maupun rangsang nyeri. Badan tertarik ke segala penjuru. Kedua lengan dan tangannya kejang, sementara tungkainya menendang-nendang. Gigi geliginya terkancing. Hitam bola mata berputar-putar. Dari liang ekspresi keluar busa. Napasnya sesak dan jantung berdebar. Raut mukanya pucat dan badannya berlumuran keringat. Terkadang diikuti dengan buang air kecil. Manifestasi tersebut dimungkinkan lantaran terdapat sekelompok sel-sel otak yang secara spontan, di luar kehendak, tiba-tiba melepaskan muatan listrik. Zainal Muttaqien (2001) menyampaikan keadaan tersebut bisa dikarenakan oleh adanya perubahan, baik perubahan anatomis maupun perubahan biokimiawi pada sel-sel di otak sendiri atau pada lingkungan sekitar otak. Terjadinya perubahan ini sanggup diakibatkan antara lain oleh stress berat fisik, benturan, memar pada otak, berkurangnya anutan darah atau zat asam akhir penyempitan pembuluh darah atau adanya pendesakan/rangsangan oleh tumor. Perubahan yang dialami oleh sekelompok sel-sel otak yang nantinya menjadi biang keladi terjadinya epilepsi diakibatkan oleh banyak sekali faktor.
Perubahan bisa terjadi pada awal ketika otak janin mulai berkembang, yakni pada bulan pertama dan kedua kehamilan. Dapat pula diakibatkan adanya gangguan pada ibu hamil muda menyerupai infeksi, demam tinggi, kurang gizi (malnutrisi) yang bisa menimbulkan bekas berupa kerentanan untuk terjadinya kejang. Proses persalinan yang sulit, persalinan kurang bulan atau telat bulan (serotinus) menjadikan otak janin sempat mengalami kekurangan zat asam dan ini berpotensi menjadi ''embrio'' epilepsi. Bahkan bayi yang tidak segera menangis ketika lahir atau adanya gangguan pada otak menyerupai infeksi/radang otak dan selaput otak, cedera lantaran benturan fisik/trauma serta adanya tumor otak atau kelainan pembuluh darah otak juga memperlihatkan bantuan terjadinya epilepsi. Sederet keterangan di atas tentunya sangat bermanfaat bagi kaum ibu, ternyata kondisi kehamilannya ikut andil terhadap ''nasib'' keturunannya.
Epilepsi dalam Kehamilan
Pengertian epilepsi dalam kehamilan
Epilepsi merupakan kelainan neurologik, yang mana pada ibu hamil membutuhkan tata laksana yang adekuat dan tanpa berisiko baik terhadap ibu/bayi. Menurut statistik Amerika Serikat, 0.5% kehamilan dijumpai pada perempuan epilepsi. Risiko pada perempuan epilepsi yang hamil lebih besar dari pada perempuan normal yang hamil. Untuk menanggulangi banyak risiko, maka dokter hebat kandungan dan dokter hebat neurologi bekerjasama semoga bayi dan ibu mengalami keselamatan jasmani dan rohani. Angka maut neonatus pada pasien epilepsi yang hamil yaitu tiga kali dibandingkan populasi normal. Pengaruh kehamilan terhadap epilepsi bervariasi. Kira-kira ¼ masalah frekuensi bangkitan akan meningkat terutama pada trimester terakhir. Seperempatnya lagi menurun dan separuhnya tidak mengalami perubahan selama kehamilan.
Pengobatan perempuan epilepsi yang hamil pada umumnya dilakukan berdasarkan prinsip yang sama menyerupai pada pasien tidak hamil. Risiko yang dialami janin lantaran bangkitan yang dialami ibu mungkin sama besar dengan yang disebabkan obat anti epilepsi. Malformasi yang disebabkan terapi obat anti epilepsi akan terjadi pada 4-10 ahad pertama dalam pertumbuhan janin;
Klasifikasi Epilepsi
Epilepsi pada kehamilan dibagi dalam 2 kelompok:
1. Yang sebelumnya sudah menderita epilepsi
2. Berkembang menjadi epilepsi selama hamil
Diagnosis
Pada perempuan hamil dengan bangkitan dan telah menerima obat anti epilepsi maka investigasi yang perlu dilakukan yaitu:
1. Pemeriksaan kadar obat dalam darah
2. EEG
3. CT Scan, jikalau ada kelainan neurologik, dilakukan tergantung pada stadium kehamilan.
4. Perubahan-perubahan konsentrasi obat anti epilepsi secara teratur harus dimonitor setiap bulan.
Komplikasi
1. Pada Kehamilan
Wanita epilepsi lebih cenderung memperoleh komplikasi obstetrik dalam masa kehamilan dari pada perempuan penduduk rata-rata. Pengaruh epilepsi terhadap kehamilan yaitu:
- Melahirkan bayi prematur, didapat 4-11%
- Berat tubuh lahir rendah, kurang dari 2500 gr, ditemukan pada 7 – 10%
- Mikrosefal
- Apgar skor yang rendah
Hiilesmaa mengikuti 138 kehamilan perempuan epilepsi dibandingkan dengan 150 orang sebagai kontrol, yang sesuai yaitu umur, paritas, sosial ekenomi dan jenis kelamin fetus. Beberapa peneliti tak sanggup menerangkan bahwa komplikasi pada kehamilan tidak lebih besar pada perempuan epilepsi.
2. Pada Persalinan
Neonatus perempuan epilepsi yang hamil mengalami lebih banyak resiko lantaran kesukaran yang akan dialami ketika partus berjalan. Partus prematur lebih sering terjadi pada perempuan epilepsi. Penggunaan obat anti epilepsi menjadikan kontraksi uterus yang melemah, ruptur membran yang terlalu dini. Oleh lantaran itu maka partus perempuan epilepsi hampir selalu harus dipimpin oleh pakar obstetrik. Penggunaan firsep atau vakum sering dilakukan dan juga seksio saesar.
Komplikasi persalinan baik untuk ibu dan bayi adalah:
- Frekuensi bangkitan meningkat 33%Perdarahan post partum meningkat 10%
- Bayi memiliki risiko 3% menjelma epilepsi
- Apabila tanpa profilaksis vitamin K yang diberikan pada ibu, terdapat risiko 1)% terjadi perdarahan perinatal pada bayi.
Penatalaksanaan
Pada umumnya perkembangan malformasi fetal sudah dimulai sebelum perempuan menyadari kehamilannya secara mantap. Penutupan langit-langit terjadi pada hari ke 47 kehamilan. Wanita epilepsi yang hamil harus diberitahu wacana risiko hamil yang berafiliasi dengan penggunaan obat anti epilepsi. Mereka harus tahu juga bahwa serangan epileptik sanggup membahayakan kandungan dan diri sendiri. Namun demikian mereka harus mengetahui bahwa risiko sanggup diperkecil dengan tindakan pencegahan. Dalam duduk masalah tersebut, dokter harus memperlihatkan nasehat yang sempurna dalam menghadapi dua problematik yang rumit ini. Disatu pihak ia harus menggunakan obat anti epilepsi untuk mengontrol timbulnya serangan epileptik pada ibu yang hamil dan sekaligus ia harus mencegah terkenanya fetus oleh imbas obat anti epilepsi dipakai oleh ibu yang hamil. Terapi yang dianjurkan ialah penggunaan monoterapi dengan takaran serendah mungkin paad tahap pertama kehamilan. Dosis sanggup dinaikkan pada trimester ketiga kehamilan. Pada tahap lanjut sanggup diberikan juga vitamin K (20mg/hari) untuk mencegah perdarahan neonatal
Obat-obat tersebut adalah:
1. Trimetadion
Dapat menjadikan kelainan pada janin yang spesifik disebut sindrom trimetadion fetus. German dan kawan-kawan (1970) melaporkan bahwa dalam satu keluarga terdapat 4 bayi yang mengalami malformasi dilahirkan dari ibu yang menderita epilepsi dengan menggunakan obat ini; studi lanjutan mengkonfirmasi terhadap risiko tinggi pada sindrom ini,yang mana sanggup menimbulkan perkembangan yang lambat, anomali kraniofasial dan kelainan jantung bawaan. Golongan obat ini tidak dipakai pada kehamilan
2. Fenitoin
Obat ini dipakai sangat luas sebagai obat anti epilepsi pada kehamilan dan memiliki imbas teratogenik. Terdapat kejadian sedikit yang menimbulkan malformasi mayor pada manusia. Sampai kini sebagian besar pasien-pasien diobati dengan beberapa obat anti epilepsi,sehingga sulit untuk mengevaluasi imbas obat secara individual. Angka malformasi total pada 305 anak yang dilahirkan oleh ibu tanpa epilepsi yaitu 6,4 % . Penggunaan fenitoin sanggup menjadikan terjadinya sindrom hidantoin fetus. Sindrom ini pertama kali diperkenalkan oleh Hanson dan Smith (1975) untuk menggambarkan contoh kecacatan yang diamati pada neonatus,
Yang mana ibu epilepsi yang hamil diberikan obat fenitoin, biasanya dikombinasi dengan fenobarbital. Sindrom ini terdiri dari kecacatan kraniofasial,kelainan anggota gerak, defisiensi pertumbuhan, retardasi mental baik ringan atau sedang
Studi prospektif dari 35 bayi pada prenatal diberi obat golongan hidantoin, Hansons dan kawan-kawan (1976) menemukan 11% memiliki citra sebagai sindroma ini (laidlaw, 1988’ Yerbi, 1991). Dosis fenitoin antara 150-600 mg/hari.
3. Sodium Valproat
Penggunaan obat ini sanggup menjadikan kelainan pada janin berupa sindrom valproat fetus. Pernah dilaporkan terhadap 7 bayi yang dilahirkan dari ibu epilepsi yang menggunakan obat ini berupa kelainan pada wajah dengan ciri-ciri: lipatan epikantus inferior, jembatan hidung yang datar, filtrum yang dangkal. Obat ini pada insan sanggup menembus plasenta secara bebas dan memperlihatkan takaran yang lebih tinggi pada neonatus dari ibu. (Laidlaw, 1988). Pada studi prospektif dari 12 bayi, pada anternatal diberikan sodium valproat memperlihatkan semuanya normal. Pada masalah sporadik pernah dilaporkan bahwa obat ini sanggup menimbulkan kelainan “neural tube defect”. Pada perempuan epilepsi yang hamil jikalau diberikan obat ini sanggup menimbulkan kelainan tersebut kira-kira 1,2%. Dosis sodium valproat antara 600-3000 mg/hari
4. Karbamazepin
Obat ini tidak terlibat pada malformasi mayor tetapi sanggup menimbulkan retardasi pertumbuhan kepala janin. Hiilesmaa dan kawan-kawan (1981) didalam penelitiannya terhadap 133 perempuan memperlihatkan bahwa penggunaan obat ini (tunggal) atau kombinasi dengan fenobarbital sanggup menimbulkan retardasi (Laidlaw, 1988). Juga pernah dilaporkan dari 25 anak dari ibu yang menggunakan obat karbamazepin tunggal ditemukan 20% dengan gangguan perkembangan (Yerby, 1991). Belakangan ini dilaporkan bahwa karbamazepin menjadikan meningkatnya masalah spina bifida sebanyak 0,5 – 1,0%. Dosis karbamazepin 400-1800 mg/hari
5. Fenobarbital
Terdapat sedikit keterangan mengenai teratogenik dari obat ini, studi awal menyampaikan bahwa sebagian besar manita epilepsi menerima kombinasi antara fenotoin dan fenobarbital. Efek teratogenik obat ini kurang jikalau dibandingkan dengan obat anti epilepsi lain dan pada manusia, Shapiro dan kawan-kawan (1976) menemukan fenobarbital tidak menimbulkan meningkatnya angka malformasi . Pemakaian obat ini sanggup menjadikan sindrom fenobarbital fetus, yang berupa Dismorfim wajah, gangguan pertumbuhan pre dan postnatal, perkembangan lambat. Bagian Obstetri dan Ginekologi Akademi Amerika menganjurkan pemakaian fenobarbital sebagai obat pilihan untuk perempuan epilepsi yang hamil (Yerby,1991). Selanjutnya Sullivan (1975), pada penelitiannya terhadap tikus yang hamil diberikan obat ini menjadikan bibir dan palatum sumbing berkisar antara 0.6 – 3.9% (Yerbi, 1991). Dosis Fenobarbital antara 30 – 240 mg/hari (Gilman AG, 1991).
Efek Teratogenik Obat Anti Epilepsi
Prosentase malformasi akhir obat anti epilepsi adalah:
1. Trimetadion, lebih 50%
2. Fenitoin, 30%
3. Sodium Valproat, 1,2%
4. Karbamazepin, 0,5-1 %
5. Fenobarbital, 0,6% (Yerby, 1991)
Konsentrasi obat anti epilepsi dalam plasma perempuan hamil yang akan melahirkan bayi malformasi selalu lebih tinggi dari pada kadar obat anti epilepsi pada perempuan epilepsi hamil yang melahirkan tanpa malformasi. Para perempuan epilepsi yang hamil dengan menggunakan banyak sekali jenis obat anti epilepsi lebih gampang melahirkan bayi dengan malformasi dari pada perempuan epilepsi yang hamil menggunakan obat epilepsi tunggal. Sudah barang tentu multipel dan penggunaan takaran tinggi berafiliasi dengan jenis epilepsi yang tidak gampang terkontrol. Malformasi fetal yang berafiliasi dengan obat-obat anti epilepsi, dengan adanya kemungkinan neonatus cacad akhir malformasi dan anomaly kongenital. Studi Meadow (1968), yang meliputi masalah kehamilan sejumlah 427 pada 186 perempuan epilepsi yang menggunakan obat anti epilepsi, menemukan anak dengan cacad (bibir dan langit-langit sumbing) yang berjumlah cukup banyak. Meadow dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa malformasi kongenital pada anak yang terkena imbas obat anti epilepsi yaitu 2 kali lebih sering dibandingkan anak yang tidak terkena imbas obat anti epilepsy. Malformasi untuk populasi rata-rata berkisar antara 2-3%, sedangkan untuk bayi yang dilahirkan oleh ibu epilepsi antara 1,25 – 11%. Menurut peneliti lain berkisar 4-6% (Johnston, 1992).
Sumber : http://bidanshop.blogspot.com/
Komentar
Posting Komentar